Senin, 15 Juli 2013

Budidaya Ulat Sutra

Surga SeranggaUlat mungkin bagi sebagian orang merasa jijik dan geli melihatnya. Ada juga yang berasumsi ulat bikin kulit gatal-gatal. Dibalik itu semua ada jenis ulat yang sudah banyak dibudidayakan seseorang dan memperoleh keuntungan yang cukup besar. Ulat tersebut adalah ulat sutera. 
Ulat sutera adalah produsen penghasil daripada benang sutera. Budidaya ulat sutra merupakan usaha yang cukup menjanjikan. Selain memiliki prospek yang sangat cerah, budidaya ini tergolong sangat unik.
Ulat sutera memiliki peluang bagus untuk saat ini, melihat permintaan akan kain sutera yang semakin hari semakin meningkat. Harga kain juga dapat dibilang tinggi, jadi bagi anda yang ingin membudidayakan ulat sutera tidak perlu khawatir potensi keuntungan yang akan anda dapatkan. 
Modal awal juga tidak terlalu besar, sehingga budidaya ulat sutera ini dapat sebagai solusi alternatif bagi wilayah-wilayah yang memiliki lahan kering atau lahan yang mengandalkan tadah hujan sebagai pengairannya.
Untuk membudidayakan ulat sutera hal yang perlu dipenuhi yaitu ketersediaan akan pakan, yaitu daun morbei. Pohon murbei harus disiapkan atau ditanam setidaknya empat bulan sebelum memulai budidaya ulat sutera.
Pohon murbei, sebagai pakan ulat sutera, tidak memerlukan pengairan yang cukup banyak. Hanya saja, pada awal tanam untuk derah lahan kering, sebaiknya dimulai pada musim penghujan. Setelah tumbuh baik, selanjutnya hanya tinggal pemeliharaan, tanpa menguatirkan pengairannya.
Perlu diketahui, modal awal berupa pohon murbei sekitar 8.000 batang adalah untuk sekali tanam (per kotak benih/telur ulat sutera) dan terus berlanjut hingga seterusnya. Begitu juga dengan media/kotak pembesarannya, cukup dibuat sekali, untuk seterusnya. Kemudian, harga satu kotak benih/telur urat berisi 25.000 butir telur, dapat dibeli seharga Rp 50.000. 
Dari satu kotak itu, kepompong yang bisa dihasilkan adalah seberat 40 – 50 kilogram. Kisaran harga kepompong saat ini adalah Rp 35.000 – Rp 40.000 per kilogram kepompong. Siklus ulat sutera mulai dari menetas telur hingga menjadi kepompong adalah 25 hari. Dan, berapapun jumlah kepompong yang dihasilkan, pasar selalu siap menerimanya.
Melihat peluang budidaya ulat sutera yang cukup memuaskan, dengan tingkat resiko yang sangat kecil, sudah sepantasnya budidaya ulat sutera ini menjadi alternatif solusi yang harus didukung semua pihak guna meningkatkan taraf ekonomi masyarakat, di tengah kondisi makin melambungnya harga-harga kebutuhan pokok.

LinkWithin